News Update :
Tampilkan postingan dengan label kejawen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kejawen. Tampilkan semua postingan

Menyelidiki kekuatan supranatural dalam legenda

Dunia kita ini memang penuh dengan keajaiban, kalau kita merenungkannya, di mana jika memang alam dapat menciptakan engkau dan aku, mengapa tidak menciptakan setitik kejutan yang tak terduga bagi kita, agar dapat merasakan napas alam yang luar biasa dan kewibawaannya tak dapat diganggu-gugat!

Mari kita perhatikan beberapa teknik supernatural berikut ini
1. Teknik menunjuk batu menjadi emas
Dalam legenda zaman kuno, ada legenda tentang dewa yang mengubah batu menjadi emas, yang digunakan untuk mengelabui orang-orang jahat yang mata duitan. Di negeri Barat juga ada kisah menarik tentang cahaya matahari yaang dipendam di bawah tanah, lalu membaca-baca mantra dan memanen emas.

2. Teknik menyembunyikan diri
Ini adalah suatu teknik ajaib yang dapat membuat orang hilang tak berbekas, terdiri dari 3 bagian yakni teknik menyembunyikan diri, memisahkan dan memindahkan badan. Teknik menyembunyikan diri adalah membuat orang lain tidak dapat melihat kita. Dalam legenda diceritakan raja mengenakan satu stel mantel stealth, atau teknik menyembunyikan diri, yaitu suatu teknik agar orang lain tidak dapat melihat kita. Tapi teknik menyembunyikan diri ini dapat meninggalkan jejak. Tentu saja, sebaiknya di dunia ini jangan ada teknik demikian, agar jangan sampai orang-orang yang mempunyai niat jahat bertindak sembarangan terhadap privasi orang lain.

Teknik memisahkan badan lebih gaib lagi, dalam sekejap bisa menghadirkan banyak diri individu, dan sulit membedakan mana yang asli atau palsu, mereka bisa melakukan hal yang tidak sama, dalam game PS kerap kita saksikan ada makhluk aneh memakai teknik memisahkan badan, mereka bisa muncul dan hilang secara misterius, dan melancarkan serangan secara diam-diam.

Tapi, yang paling menarik adalah teknik memindahkan badan yang dapat membuat Anda hilang dari suatu tempat, lalu muncul di tempat lain, ditilik dari sini, kemampuan imajinasi orang-orang jauh melampaui kemampuan teknologi modern. Suatu hari nanti, orang-orang akan menyaksikan kemisteriusan peralihan ruang dan waktu, bila tiba saatnya, ke Great Wall atau tembok raksasa China hanya dalam sekejab mata.

3. Ilmu nujum atau teknik perbintangan
Ini adalah suatu ketrampilan agar orang dapat mengetahui lebih dulu hidup dan mati serta perjalanan nasib seseorang. Ada pepatah mengatakan, hidup dan mati tergantung takdir, kaya dan berkedudukan berada di tangan Tuhan, rahasia langit ini tidak boleh dibocorkan. Dikatakan bahwa di negeri barat ada seorang peramal bernama Nostradamus, ramalannya terhadap masa depan memiliki kemiripan yang mengejutkan dengan peristiwa sejarah. Dalam mangkuk sedekah misteriusnya, dia menyaksikan hukuam mati sang raja, bahkan ia juga meramal umurnya sendiri, namun, saat tiba waktunya itu ia masih baik-baik saja. Demi mewujudkan ramalannya, ia terpaksa bunuh diri.

4. Teknik hipnotis
Konon katanya teknik hipnotis yang diciptakan psikolog dapat membuat orang dengan cepat terlelap, atau mengatakan isi hati tanpa sadar dalam mimpinya. Pada zama dahulu, ada cerita tentang siluman rubah (wanita yang menggiurkan) memikat raja Zhou (raja lalim yang terakhir dinasti Shang) dengan kecantikannya, sehingga membuat sang raja mengadakan hubungan asusila dengannya, dan membunuh sewenang-wenang menteri setianya ; di negeri Barat ada cerita tentang mata suatu ular besar yang dapat membuat orang terkesima, hingga lupa untuk melarikan diri ; dan kisah tentang putri duyung atau ikan duyung yang memikat penyelam dengan lentingan suara merdunya.

5. Teknik menghidupkan kembali yang sekarat
Sepertinya lebih sulit dibanding menggapai langit, karena manusia mati tidak bisa hidup kembali. Namun, zaman dahulu terdapat sebuah cerita, ada seorang gadis jelita, di mana oleh karena tidak bisa bersatu dengan kekasihnya, apalagi sang orang tua memaksanya untuk menikah dengan orang lain, akibatnya ia meninggal dunia lalu dikebumikan. Dan malamnya, secara kebetulan ada seorang pencuri makam mencuri barang-barang yang dikubur bersama si mati, karena nafsu sang pencuri makam hingga, membangunkan si mati karena terkejut. Selain itu, ada lagi cerita yang lebih mengerikan, ada seberkas kilat menyambar sebuah kuburan, hingga menyingkap peti mati, lalu dari dalam kubur sesosok manusia hidup merayap keluar, benar-benar membuat orang menggigil ketakutan!

6. Teknik menembus batin
Tak ada yang lebih gaib di dunia selain daripada teknik menembus batin. Ada yang memiliki suatu ketrampilan khusus yakni dapat melihat tulang kerangka dan jantung yang berdetak pada orang yang berjalan ke hadapan kita ; juga ada ketrampilan kontak batin, menunjuk dengan jari tangan, gelas yang diletakkan diam di atas meja mulai bergerak ; atau dengan kekuatan pikiran membuat jarum jam berjalan lebih cepat, juga ada ketrampilan yang lebih gaib lagi yakni bergantung di awang-awang.

7. Ketrampilan membaca mantra
Konon katanya dalam makam Firaun Mesir kuno ditanami dengan kutukan, barang siapa yang mengganggu roh sang raja, dipastikan akan mati. Di negerri bara ada kisah tentang penyihir yang terbang menunggangi sapu atau permadani. Konon katanya, sang penyihir menggunakan mantranya, membalas dendam kepada musuhnya, memakai boneka kayu sebagai pengganti orang yang sebenarnya, lalu membaca mantranya. Di Jepang ada penyihir yang meggunting beberapa lembar kertas, kemudian meniupnya dan tidak lama setelah itu berubah menjadi gadis-gadis belia, beragam kegaiban tak ada habisnya dalam mantra sang penyihir.

8. Teknik mengirim mimpi.
Terkadang Anda akan menemui sejumlah peristiwa, dan selalu akan merasa sepertinya pernah mengalaminya, dan setelah direnungkan, rasanya begitu mencengangkan, ternyata itu adalah pemandangan atau suasana dalam mimpi ; yang lebih menarik lagi, sepasang laki-laki dan perempuan jatuh cinta pada pandangan pertama, seperti kekasih dalam impian. Konon katanya, pada zaman dahulu kala, ada roh yang memperbaiki kesalahannya semasa hidup di dunia dengan cara mengirimkan mimpi, menurut mereka yang percaya membuta (takhayul), jika ada kerabat atau handai taulan yang telah meninggal dunia belum menyelesaikan keinginannya semasa hidup juga bisa memberitahu Anda melalui mimpi.

Misteri Angka 66

tiada lain 26 adalah sebuah enam sebanyak 2 kali yang biasa pula disebut sebagai 66. Tidak banyak yang menyadari bahwa sebelum meninggalnya tokoh populer di indonesia ini sudah diberikan sebuah kejadian demi kejadian aneh, utamanya beliau adalah Ki Surakso Hargo – artinya penjaga gunung – yang kemudian lebih akrab dipanggil dengan Mbah Maridjan adalah seorang abdi dalem keraton Jogjakarta, yang bertugas sebagai juru kunci Gunung Merapi.

Selama ini, ia hanya dikenal patuh dengan perintah Sri Sultan Hamengkubuwono, raja penguasa keraton Jogjakarta. Maklum, dia adalah bagian dari abdi dalem keraton, yang hidupnya memang hanya mengabdi kepada raja. Sesaat sebelum kematian beliau, maka keanehan ditujunkkan oleh mbah marijan, Mbah Maridjan: Jangan Ambil Foto Saya…

Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi, diduga tewas akibat sengatan awan panas yang disebut wedhus gembel di kediamannya Dusun Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, Selasa (26/10/2010). Dusun tempat tinggal Mbah Maridjan dan kerabatnya itu luluh lantak di sapu abu panas. Belasan jenazah ditemukan dan satu di antaranya diduga adalah Mbah Maridjan.

Mbah Maridjan dan kerabatnya sebelumnya menolak turun gunung untuk mengungsi. Mereka memilih bertahan di rumahnya. Beberapa menit sebelum semburan dahsyat abu gunung, Tribunnews.com sempat melakukan wawancara dengan Mbah Maridjan.

Mbah Maridjan dengan Ki Joko Bodo sewaktu masih hidup

Mbah Maridjan saat itu pun tampak seperti biasa menghadapi kondisi bencana tersebut. Saat wartawan Tribunnews.com memasuki halaman rumah Mbah Maridjan, Bintang iklan minuman suplemen itu menyambut dengan tawa riang. “Ini pakai bahasa Indonesia apa bahasa Yogya,” kata Mbah Maridjan mengawali pembicaraan.

Meski panjang lebar dan riang menjawab pertanyaan, Mbah Maridjan mewanti-wanti agar tidak diambil fotonya. Hal ini aneh mengingat Mbah Maridjan akrab dengan kamera karena sering tampil bahkan menjadi bintang iklan sebuah produk minuman stamina. “Jangan difoto, ya,” katanya.

Mbah Maridjan sore itu memang tampak berbeda. Saat juru kamera televisi mengambil gambarnya ia pun terus-menerus menutupi wajahnya.

Jauh hari sebelum kematian beliau, maka di keraton itulah tanda awal kematian mbah marijan lewat sebuah gempa bumi yang terjadi tgl 21-agustus-2010 lalu (bacaGempa Yogya, Mengapa Tepat 21-Agustus-2010 ?). Tersebutlah di dalam gempa itu cukup keras walau tidak ada korban jiwa, namun di keraton yogyakarta itulah sebuah makna terjadi,Akibat Gempa Yogya, Umpak Keraton Pecah, Sebuah Pertanda. Itulah gempa yogya yang terjadi tgl 21-agustus-2010 lalu, hingga mbah marijan meninggal tercatatlah tgl meninggalnya beliau adalah tgl 26-oktober-2010 sebagai tgl letusan g. merapi, GKR Hemas Tengok Jasad Mbah Maridjan

Sebuah keanehan muncul dari rentang waktu gempa yogya 21-agustus-2010 dan letusan merapi tgl 26-oktober-2010, tercatat itulah 66 hari dari rentang waktu itu. Sekali lagi 66 hari setelah gempa yogya yang memecahkan empat umpak keraton yogyakarta, maka enam puluh enam hari itulah beliau meninggal dunia.

Apakah ada yang aneh dengan 66 itu ? Itulah bentukan dari nama beliau, MARIJAN, dimana tersusun alfabet dari huruf itu adalah M=13, A=1, R=18, I=9, J=10, A=1, N=14, kesemua itu berjumlah 66.

Nilai 66 hari adalah sebuah rentang waktu yang mudah di-ingat sebagai nilai kembar yang pernah tertulis sebelumnya, jauh kedua peristiwa itu terjadi. Tulisan 66 itu dapat dijumpai pada ulasan Tanda Tanda Sebelum Gempa Yogya atau artikel Sebelum Gempa Yogya 27-mei-2006. Dengan jelas kode 66 itu mengarah pada sosok sang juru kunci, beliaunya adalah mbah marijan.


AJAKAN PEMURNIAN AJARAN TAUHID

Didalam milis tersebut terdapatlah suatu ajakan untuk memurnikan ajaran Islam yang disebut sebagai bagian dari kepedulian ketauhidan. Setting latar belakang dari gempa yogya ini adalah sebuah berita & pengagungan berlebihan terhadap sosok juru kunci merapi dengan kode bencana 66,


Misteri Kematian Mbah Maridjan


(juru kunci merapi, kode 13+1+18+9+10+1+14=66, sedangkan gempa yogya 27-05-2006, kode gempa yogya = 27+05=32, kemudian di ikuti oleh semburan lapindo yang dimulai 29-05-2006, kode lumpur lapindo=29+05=34, sehinga dua bencana tersebut adalah 32+34=66 juga, sama dengan kode sang tokoh)

Tersebutlah tgl 22-05-2006 atau 5 sebelum gempa yogya, maka para penggiat milis the_untold_stories melakukan penyebaran brosur tentang gempa yogya, hal ini tercatat & terbukti sebagai saksi yang tidak terbantahkan karena tgl catatan milist tsb tidak bisa diubah (baca Lawan mbah Marijan, Mon May 22, 2006 5:41 am) Berikut cuplikan isi press release ke media terkenal.

Kini kode 66 itu sendiri tengah berhadapan dengan penguasa sebenarnya yaitu Mbah Maridjan Tewas Bersujud. , mohon ampun atas yang pernah dilakukan beliau pada tahun tahun sebelumnya. (baca G. Merapi & Fenomena Mbah Marijan) dibandingkan dengan tahun 2006 yanglalu, 26/08/2006 13:36 WIB Mbah Marijan Pimpin Labuhan Merapi

Sleman – Juru kunci Gunung Merapi, RP Suraksohargo yang lebih dikenal Mbah Marijan memimpin prosesi labuhan alit di Gerbang Srimanganti atau Pos 2 Merapi. Upacara labuhan alit yang jatuh setiap tanggal 30 Rejeb penanggalan Jawa 1939 itu dilakukan untuk memperingati jumenengan dalem atau naik tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai raja Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat.

Upacara adat Labuhan Merapi hari ini, Sabtu (26/8/2006) di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo Kecamatan Cangkringan Sleman yang juga menjadi kediaman juru kunci Merapi, Mbah Marijan. Prosesi ini digelar sehari setelah dilakukan upacara labuhan di Parangkusumo Bantul. Sebelum dilakukan prosesi, pada hari Jumat kemarin telah dilakukan upacara serah terima ubarampe labuhan dari utusan kraton kepada pejabat Kabupaten Sleman di Kecamatan Cangkringan. Dari kecamatan, barang-barang

yang akan dilabuh ini pada sore harinya akan diserahkan kepada kepada juru kunci Merapi, untuk disemayamkan. Baru pada hari Sabtu pagi, prosesi labuhan dimulai dipimpin Mbah Marijan bersama beberapa abdi dalem kraton lainnya. Ratusan warga turut hadir memadati halaman rumah Mbah Marijan untuk menyaksikan prosesi tahunan ini.

Sebelum prosesi arak-arakan dimulai, warga yang ingin ngalap berkah sudah ada yang mendaki lebih dulu melalui jalur pendakian bagian selatan. Menjelang subuh sudah banyak warga yang berkumpul di pendopo Srimanganti tempat prosesi labuhan dimulai yakni di Pos 2 di wilayah Kendhit yang merupakan batas hutan vegetasi Merapi. Sejak pagi hingga acara berlangsung langit cerah dengan suhu udara sekitar 20 derajat Celcius. Menjelang dilaksanakan upacara labuhan sejak Jumat sore hingga Sabtu pagi, Merapi tampak jelas, meski beberapa hari sebelumnya gunung itu selalu tertutup kabut. Beberapa barang yang dilabuh sebanyak 8 macam meliputi, kain sinjang cangkring, semekan gadhung melati, semekan bango tolak, peningset yudharaga, selendang cindhe, kain kampuh poleng, minyak wangi, kemenyan ratus, uang kepeng dan beberapa sesaji diantaranya nasi ingkung lengkap danlain-lain.

Semua ubarampe labuhan dibawa oleh para abdi dalem. Mbah Marijan langsung memimpin sendiri jalannya prosesi sebagai pembuka jalan. Turut mendampingi selama berlangsung prosesi hingga menuju tempat acara di Pos 2 beberapa anggota Tim SAR DIY dan relawan lainnya. Setelah berjalan mendaki selama lebih kurang 2 jam, rombongan tiba di tempat upacara. Ratusan orang yang sudah datang lebih dulu maupun yang datang bersamaan rombongan Mbah Marijan langsung duduk di sekitar tempat prosesi. Setelah dilakukan wilangan atau pengecekan satu-persatu barang yang akan dilabuh. Setelah dinyatakan lengkap semua ubarampe labuhan kemudian di tempat yang telah disediakan. Bersamaan dengan dibakarnya kemenyan dilakukan doa bersama memohon keselamatan. Usai dilakukan doa bersama barang-barang yang dilabuh kemudian diperebutkan warga yang ingin ngalap berkah.

Ubarampe yang dilabuh itu sebagai bentuk permohonan untuk mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan terutama kepada Sultan, negara Indonesia, Kraton Yogyakarta beserta warga Yogyakarta seluruhnya diberi keselamatan di jauhkan dari berbagai bencana terutama pasca erupsi Merapi tahun ini maupun berbagai bencana dan musibah lainnya.

Labuhan itu juga sebagai persembahan kepada penguasa Gunung Merapi yang dipimpin Eyang Kyai Sapu Jagad, Empu Rama, Empu Ramadi, Krincing Wesi, Branjang Kawat, Sapu Angin, Mbah Lembang Sari, Nyai Gadhung Mlati dan Kyai Megantoro yang kesemuanya sebagai penguasa di Gunung Merapi. (jon)

Itulah kode 66 dari alfabet nama beliau dan silsilah bencana yogyakarta,tahun 2006 lalu tgl 6-6-2006, Selasa, 06/06/2006 11:57 WIB Hujan Abu Tebal, Mbah Marijan Naik ke Gunung Merapi

Sleman – Rumah juru kunci Gunung Merapi Mbah Marijan diguyur hujan abu sangat tebal. Hujan abu sejak pagi ini membuat Mbah Marijan naik ke Gunung Merapi, tepatnya di pos II jalur pendakian ke puncak Merapi, lokasi yang biasa digunakannya untuk berdoa agar diberi keselamatan. “Bapak pergi ke atas. Tetapi tidak pamit sama siapapun,” kata Bu Panut, salah seorang anak Mbah Marijan kepada detikcom saat ditemui di rumah Mbah Marijan, Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupetan Sleman, Yogyakarta, Selasa (6/6/2006). Sampai pukul 12.00 WIB, Dusun Kinahrejo bertambah gelap akibat hujan abu tebal yang mengguyur wilayah tersebut sejak pagi. Selain abu, mendung dan kabut juga turun. Akibat hujan abu dan kabut tebal ini, pemandangan puncak Gunung Merapi tidak tampak. Saat ditanya kapan Mbah Marijan kembali ke rumah, Bu Panut tidak tahu persis. “Bapak kalau sedang ada perlu seperti sekarang ini sulit dipastikan kapan pulangnya,” katanya. Mbah Marijan yang memiliki nama pemberian keraton Mas Ngabehi Suraksohargo sering mengadakan acara ritual di lokasi labuhan keraton, yakni pos II Jalur pendakian ke Gunung Merapi. Di tempat inilah, ia berdoa meminta agar warga tetap diberi lindungan dan keselamatan. (jon/)

Tahun 6-6-2006 lalu, bandingkan dengan 6-6-2010 tahun ini sebagai ilustrasi, maka tgl 6-6-2010 itulah sebuah tragedi yang dilakukan sebagai bagian ritual tolak bala, malah mengundang bala, seperti yang terjadi (bacaTragedi Tolak Bala)


12 Anak di Aceh Tewas Saat Ritual Tolak Bala

Besi jembatan gantung lepas dan orang-orang berjatuhan. Kata orang, sungai itu angker.

…. Kejadian tragis ini terjadi saat warga desa sedang melaksanakan upacara adat tolak bala, pada Minggu 6 Juni 2010, kemarin…..

Bupati Gayo Lues, Ibnu Hasyim mengatakan, hingga kini upaya pencarian korban masih dilakukan di sekitar lokasi jembatan Sungai Alas. Diperkirakan masih ada empat korban lagi yang masih belum bisa ditemukan. Menurutnya, ritual tolak bala yang dilakukan warga desa Meloak Ilang, merupakan tradisi, dan tiap tahun digelar warga setempat. Para tetua kampung menghanyutkan sesajian berupa ayam jantan putih ke sungai Alas, yang diyakini menangkal bala.

“Saat upacara tolak bala berlangsung, banyak anak-anak berdiri di atas jembatan. Besi jembatan gantungnya lepas sehingga banyak yang tercebur ke sungai, jembatan itu memang dikenal angker,” katanya saat dihubungi , Senin, 7 Juni 2010.

Kini ‘merapi sudah tidak ramah lagi’ dengan mbah marijan, sebagai 66 dari alfabet beliau dan 6-6-2010 sebagai laku tolak bala yang akhirnya berujung maut, maka Inilah Alasan Mbah Maridjan Tidak Turun

Mbah Maridjan (83), sebagai juru kunci Gunung Merapi, lebih banyak melihat fenomena menggunakan naluri yang merujuk pada kebiasaan niteni (memerhatikan). Keyakinannya tentang ancaman bahaya letusan Gunung Merapi yang hampir tidak pernah merambah Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, memberikan pelajaran niteni bahwa lingkungan alam di sisi selatan Gunung Merapi masih merupakan benteng pertahanan bagi warganya. Dalam kosmologi keraton Yogyakarta, dunia ini terdiri atas lima bagian. Bagian tengah yang dihuni manusia dengan keraton Yogyakarta sebagai pusatnya. Keempat bagian lain dihuni oleh makhluk halus. Raja bagian utara bermukim di Gunung Merapi, bagian timur di Gunung Semeru, bagian selatan di Laut Selatan, dan bagian barat di Sendang Ndlephi di Gunung Menoreh.

Namun, jauh dari ungkapan-ungkapan itu, ada suatu keyakinan yang hidup di dalam masyarakat di sekitar Gunung Merapi bahwa gunung dengan segala macam isinya dan makhluk hidup yang mendiami wilayah ini menjadi suatu komunitas. Karena itu, ada hubungan saling menjaga dan saling melindungi. Ketika salah satu anggota mengalami atau melakukan sesuatu, dia akan memberi “isyarat” kepada yang lain dan dia akan memberitahukan kepada yang lain. Demikian pula ketika Merapi “batuk-batuk”, dia juga memberi isyarat kepada yang lain, termasuk kepada Mbah Maridjan. Barangkali karena saat itu belum menerima isyarat, Mbah Maridjan berpendapat bahwa Merapi tidak akan melakukan sesuatu. Selanjutnya, Mbah Maridjan tidak mau diajak mengungsi (meninggalkan Gunung Merapi).

Tidak seperti tahun 2006 lalu, dimana beliau selamat, maka kali ini nahas menjemput beliau, Mbah Maridjan Tewas di Rumahnya

Juru Kunci Gunung Merapi, Ki Surakso Hargo atau Mbah Maridjan, menjadi korban dan ikut tewas akibat semburan awan panas letusan Gunung Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (26/10/2010) sore. Seorang anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Slamet, mengatakan, saat dilakukan penyisiran pada Rabu pagi ditemukan sesosok mayat dalam posisi sujud di dalam kamar mandi rumah Mbah Maridjan. “Kemungkinan mayat yang ditemukan tersebut adalah Mbah Maridjan, tetapi ini belum pasti karena wajah dan seluruh tubuhnya sudah rusak dan sulit dikenali lagi,” katanya. Menurut dia, mayat tersebut ditemukan di dalam kamar mandi rumah dalam posisi sujud dan tertimpa reruntuhan tembok dan pohon. “Biasanya, di dalam rumah Mbah Maridjan tersebut hanya ditinggali oleh Mbah Maridjan sendiri,” katanya. Kondisi di dusun sekitar tempat tinggal Mbah Maridjan mengalami kerusakan yang sangat parah, hampir semua rumah dan pepohonan roboh. “Kerusakan ini akibat terjangan awan panas dan bukan karena material lava,” katanya.

Kepala Hubungan Masyarakat dan Hukum RS Dr Sardjito Yogyakarta Heru Trisna Nugraha, Rabu (27/10/2010), mengatakan, saat ini jenazah Mbah Maridjan masih berada di Bagian Kedokteran Forensik RS Dr Sardjito, Yogyakarta. “Jenazah tersebut dibawa oleh anggota Tim SAR dan masuk ke RS Dr Sardjito sekitar pukul 06.15 WIB, informasi yang kami peroleh dari petugas SAR yang mengantar saat ditemukan Mbah Maridjan dalam kondisi memakai baju batik dan kain sarung.

Sebelumnya sempat dikabarkan, Mbah Maridjan ditemukan dalam kondisi selamat, tetapi fisiknya lemah, tidak jauh dari kediamannya pada Selasa (26/10/2010) tengah malam. “Juru kunci Gunung Merapi Mbah Maridjan ditemukan dalam kondisi selamat oleh salah seorang anggota tim pencari (SAR),” kata Komandan Pangkalan TNI AL Yogyakarta Kolonel Laut Aloysius Pramono di Sleman, Rabu dini hari, sebelum akhirnya disebutkan bahwa Mbah Maridjan ikut wafat dalam letusan gunung yang dijaganya itu.

Meninggal dalam posisi berujud, Mbah Maridjan Tewas Bersujud itulah sebagai makna pengabdian sebenarnya kepada Allah swt, tanpa harus ada penunggu merapi: Eyang Kyai Sapu Jagad, Empu Rama, Empu Ramadi, Krincing Wesi, Branjang Kawat, Sapu Angin, Mbah Lembang Sari, Nyai Gadhung Mlati dan Kyai Megantoro yang kesemuanya sebagai penguasa di Gunung Merapi

Tim evakuasi korban letusan Gunung Merapi menemukan sesosok mayat laki-laki dalam posisi sedang bersujud di rumah Mbah Maridjan, Rabu pagi ( 27/10/2010). Apakah jenazah tersebut Mbah Marijan atau bukan, petugas belum dapat memastikan identitasnya. Kepala Humas dan Hukum RS Dr Sardjito Yogyakarta Heru Trisna Nugraha, Rabu, mengatakan, saat ini jenazah lelaki mirip Mbah Maridjan tersebut masih berada di Bagian Kedokteran Forensik RS Dr Sardjito, Yogyalarta.

“Jenazah tersebut dibawa oleh anggota Tim SAR dan masuk ke RS Dr Sardjito sekitar pukul 06.15 WIB. Informasi yang kami peroleh dari petugas SAR yang mengantar saat ditemukan Mbah Maridjan dalam kondisi memakai baju batik dan kain sarung.

Sebelumnya, kabar mengenai Mbah Maridjan simpang siur. Sempat diberitakan, juru kunci Merapi itu ditemukan selamat dalam kondisi lemas. Saat terjadi sapuan awan panas itu, Mbah Maridjan sedang shalat di masjid yang berjarak 100 meter dari rumahnya. Tapi, dia menolak untuk dievakuasi dan tetap ingin berada di masjid. Jumlah korban tewas di sekitar kediaman Mbah Maridjan akibat letusan gunung teraktif di Indonesia hingga Rabu pagi tercatat16 orang. Anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Komandan Angkatan Laut Kolonel Pramono mengatakan tim ini saat menuju rumah Mbah Maridjan untuk melakukan evakuasi menemukan sebanyak 12 mayat, belum termasuk mayat yang ditemukan di rumah Mbah Maridjan sebanyak empat orang. Ia mengatakan tim yang beranggotakan 38 orang ini melakukan evakuasi bersama dengan tim lain namun hanya timnya yang berhasil mencapai puncak karena menggunakan truk meskipun harus menghadapi halangan pohon tumbang di jalan menuju rumah Mbah Maridjan. (Krisdianto/Anita)

Itulah kode 66 dari mbah marijan yang akhirnya meninggal di tgl 26 (enam sebanyak 2 kali), selang 66 hari sebelumnya terjadi gempa yogya 21-agustus-2010. Itulah 66 yang berkaca sebuah hal yang patut direnungkan dan dijadikan perhatian sesuai firman Allah swt surat 6 ayat 6

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (surat 6 ayat 6)

Rabu, 27/10/2010 13:17 WIB GKR Hemas: Kraton Akan Cari Pengganti Mbah Maridjan, semoga pengganti beliau adalah mahluk yang amanah dan sujud kepada Allah swt saja, seperti yang ditunjukkan oleh mbah marijan saat beliau dipanggil oleh penguasa yang sebenarnya.

KLIPING BERITA

Rumah Mbah Maridjan (83) di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta–entah disadari atau tidak–secara kebetulan relatif terlindung dari ancaman awan panas Gunung Merapi, karena berada di balik tebing yang disebut Geger Boyo (punggung buaya).

Tebing yang dari kejauhan tampak seperti punggung buaya dengan kepala mengarah ke atas itu dianggap warga lereng Merapi sebagai “benteng pertahanan” dari serangan awan panas.

Apakah karena alasan itu Mbah Maridjan menolak dievakuasi, tidak ada yang tahu. Yang jelas Mbah Maridjan meyakini bahwa Gunung Merapi adalah pusatnya jagad di Tanah Jawa. Dia juga percaya Gunung Merapi adalah gunung yang “hidup” yang akan senantiasa bertambah dan berubah, sehingga jika memang Gunung Merapi meletus, berarti gunung berapi yang paling aktif di dunia itu sedang “berubah” atau “bertambah”.

Menghadapi situasi tersebut Mbah Maridjan mengajak siapa saja memohon keselamatan kepada yang Mahakuasa agar terhindar dari bahaya. Permohonan itu ditempuh oleh Mbah Maridjan melalui laku tirakat (puasa mutih) dan doa-doa dengan cara berjalan mengelilingi Dukuh Kinahrejo tiga putaran setiap malam.

Di samping itu, masyarakat Dukuh Kinahrejo diminta memasang sesaji tolak bala berupa “ketupat luar” yang ditempatkan di atas pintu. Ketupat dari janur kuning tersebut bermakna simbolis agar warga yang memasangnya “keluar” dari bencana. Di dalam ketupat diisi garam dan daun sirih.

Makna simbolisnya, “daun sirih” adalah lambang Gunung Merapi dan “garam” lambang dari Samudera Indonesia atau Laut Selatan. Keduanya dalam pandangan supranatural berada dalam satu poros imajiner dan merupakan kekuatan spiritual bagi Keraton Yogyakarta.

Dalam bahasa Mbah Maridjan, gejolak di Gunung Merapi diterjemahkan sebagai “eyang” yang melenggahinya sedang punya hajat membangun “keraton”. Mbah Maridjan yang pantang menggunakan istilah “Gunung Merapi meletus”, menjelaskan bahwa di saat eyang sedang punya hajat semua orang di lingkungan Merapi harus sabar, tabah dan tawakal.

Di Gunung Merapi, menurut Mbah Maridjan, lenggah (bertahta) sejumlah penguasa, di antaranya Eyang Empu Romo, Eyang Empu Permadi, dan Eyang Panembahan Sapujagad.

KLIPING BERITA

Rabu, 27 Oktober 2010 , 08:38:00 Bersujud Hingga Ajal Menjemput Mbah Maridjan Dipastikan Tewas, Korban Meninggal jadi 28 Orang

JAKARTA – Kesetiaan Ki Surakso Hargo atau yang akrab dipanggil Mbah Maridjan terhadap gunung merapi benar-benar sampai ajal. Tadi pagi Rabu (27/10) tim dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman menemukan mayat Mbah Maridjan di dalam kamar rumahnya di Kinahrejo. lereng Merapi. Mbah Maridjan ditemukan tewas dalam posisi sudjud. Hingga pagi tadi, korban tewas yang berhasil dievakuasi dari lereng merapi sudah mencapai 24 orang. Termasuk di dalamnya adalah Mbah Maridjan. “Kemungkinan besar mayat itu Mbah Maridjan. Namun, kami belum berani memastikan kebenarannya. Kami hanya mengenali postur dan baju batiknya saja. Sedangkan wajahnya sudah sulit dikenali. Selama ini, Mbah Maridjan selalu mengenakan baju batik,” ujar Wagiyo, salah seorang anggota Tagana ketika dihubungi wartawan Radar Jogja, Rabu (27/10) pagi.

Ki Surakso Hargo – artinya penjaga gunung – yang kemudian lebih akrab dipanggil dengan Mbah Maridjan adalah seorang abdi dalem keraton Jogjakarta, yang bertugas sebagai juru kunci Gunung Merapi. Selama ini, ia hanya dikenal patuh dengan perintah Sri Sultan Hamengkubuwono, raja penguasa keraton Jogjakarta. Maklum, dia adalah bagian dari abdi dalem keraton, yang hidupnya memang hanya mengabdi kepada raja. Karena itu, tidak mengherankan jika ia tidak pernah peduli dengan himbauan pemerintah, termasuk tim SAR yang memintanya agar turun ke pengungsian.

Sikap Mbah Maridjan yang setia kepada raja dan patuh pada profesi itulah yang sering tidak dipahami oleh banyak pihak di era modern ini. Beberapa tahun silam, Mbah Maridjan pernah mengatakan, kalau pun ia harus mati karena letusan Merapi, maka itu sudah takdir . “Semua orang akan mati. Kalau saya mati karena Merapi, itu sudah takdir saya begitu,” kata Mbah Maridjan kepada JPNN di akhir tahun 2006, ketika ditanya apa tidak takut mati kalau gunung merapi tiba-tiba meletus, Jabatan juru kunci di Merapi merupakan jabatan turun menurun. Mbah Maridjan sendiri mewarisi jabatannya dari ayahnya. Konon, Mbah Maridjan memiliki daya linuwih yang bisa berkomunikasi dengan dunia ghaib Merapi.

Sejauh ini tidak jelas benar, apakah pihak keraton sudah memberikan perintah agar Mbah Maridjan turun gunung atau memang Mbah Maridjan memiliki perhitungan lain sehingga ia diduga ikut tewas tersapu awan panas yang disemburkan gunung Merapi tempat di mana Mbah Maridjan mengabdi selama ini. Pada Tahun 2006, Mbah Maridjan juga tidak mempedulikan himbauan pemerintah untuk mengungsi. Bahkan, ketika itu, Mbah Maridjan malah naik mendekati kawah Merapi, ketika rombongan Presiden SBY menyempatkan bermalam dan bermain gitar dengan para pengungsi merapi.

Sejauh ini tim memang masih belum yakin benar mayat bersujud itu adalah Mbah Maridjan. Mereka hanya bisa mereka-reka dengan kondisi sehari-harinya. Yakni, kebiasaan si mbah bintang iklan jamu perkasa yang selalu mengenakan baju batik. Maklum, bajunya masih utuh namun wajah mayat pada umumnya sudah sulit dikenali, tersapu hawa panas yang konon mencapai 600 derajat celcius. “Dari postur tubuhnya memang mirip dengan Mbah Maridjan. Tapi, kalau bukan Mbah Maridjan siapa lagi, karena semua mayat di sekitar Mbah Maridjan sudah terindentifikasi,” Wagiyo menambahkan.

Wagiyo menambahkan, mayat Mbah Maridjan yang ditemukan sedang bersujud itu tertimpa reruntuhan tembok rumah dan pohon. “Pohonnya juga tinggal batang dan ranting yang terbalut debu vulkanik yang tebal.” Wagiyo juga memastikan bahwa rumah itu hanya ditinggali oleh Mbah Maridjan sendiri.

Ia mengatakan, kondisi di dusun sekitar tempat tinggal Mbah Maridjan mengalami kerusakan yang sangat parah, hampir semua rumah dan pepohonan roboh.”Kerusakan ini akibat terjangan awan panas dan bukan karena material lava,” katanya.

Kepala Humas dan Hukum RS Dr Sardjito Yogyakarta Heru Trisna Nugraha membenarkan bahwa jenazah Mbah Maridjan kini sudah berada di ruang Forensik RS Dr. Sardjito. Sampai saat ini, di rumah sakit Dr. Sardjito Jogjakarta, posisi mayat Mbah Maridjan masih dalam posisi bersujud. “Jenazah tersebut dibawa oleh anggota Tim SAR dan masuk ke RS Dr Sardjito sekitar pukul 06.15 WIB, informasi yang kami peroleh dari petugas SAR yang mengantar saat ditemukan Mbah Maridjan dalam kondisi memakai baju batik dan kain sarung.



Tanda-tanda Manusia Akan Meninggal Seminggu Lagi


Semua yang hidup pasti akan mati. Seperti apa proses kematian yang nantinya akan dialami oleh setiap makhluk hidup?

Tidak mudah memang memprediksikan secara tepat kapan seseorang akan meninggal. Kematian itu sendiri bisa disebabkan sakit, kecelakaan atau sebab lainnya.

Pada kondisi normal seperti orang sakit biasanya seseorang akan menunjukkan gejala yang mengindikasikan bahwa hidupnya akan segera berakhir beberapa minggu lagi seperti dikutip dari Mayoclinic yaitu:

1. Merasa gelisah.
Seseorang akan merasa tidak tenang serta sulit tidur, selain itu dia akan seringkali mengganti posisi saat tidur karena perasaan gelisah.

2. Menarik diri.
Seseorang tidak ingin lagi terlibat dalam aktifitas sosial ataupun melakukan kegiatan favoritnya.

3. Sering mengantuk.
Seseorang akan menghabiskan lebih banyak waktunya untuk tidur.

4. Kehilangan nafsu makan.
Seseorang hanya akan makan dan minum dalam jumlah sedikit dan berbeda dari biasanya.

ARTU GUNUNG DI WEWAYANGAN

ddd

Siapa yang tak kenal wayang, hampir 100 persen manusia indonesia bahkan sampai mancanegara dan dunia pun mengenal wayang. Salah satu khazanah kekayaan kebudayaan dari negeri Indonesia. Selain sebagai tontonan, wayang juga mencakup tuntunan yang dapat dijadikan pelajaran dalam kehidupan. Wayang terdiri dari banyak bagian dan tokoh pewayangan, dan salah satu bagiannya adalah gunungan. Gunungan, adalah salah satu bagian dari wayang yang bentuknya seperti gunung. Di bagian bawah terdapat gambar pintu gerbang yang dijaga oleh dua raksasa memegang pedang dan perisai, bagian ini sebagai perumpamaan pintu gerbang istana, Sebelah atas terdapat gambar pohon kayu yang dibelit oleh

Ramalan Jayabaya dan Kebenarannya

Benarkah adanya hubungan ramalan Jayabaya dalam realitas kehidupan bangsa Indonesia saat ini, disaat morat-maritnya keadaan yang semakin tidak menentu. Berbagai bencana yang melanda bangsa indonesia dari mulai gempa, sunami, longsor, banjir bandang dan masih banyak lagi bencana yang melanda bangsa kita. Jika ditelisik dari penggalan-penggalan dari ramalan Jayabaya memang banyak yang sudah terjadi pada saat ini. Apakah itu sebuah kebetulan ataukah itu memang kesamaan ? wallahu a’lam…. yang jelas beginilah kondisi bangsa kita. Dibawah ini adalah ramalan Jayabaya yang terkenal tersebut. Jika kita intip kebenarannya, percayakah kita akan datangnya Ratu Adil ? Siapakah itu ? semoga saja.
  • Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran — Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
  • Tanah Jawa kalungan wesi — Pulau Jawa berkalung besi.
  • Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang — Perahu berjalan di angkasa.
  • Kali ilang kedhunge — Sungai kehilangan mata air.
  • Pasar ilang kumandhang — Pasar kehilangan suara.
  • Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak — Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
  • Bumi saya suwe saya mengkeret — Bumi semakin lama semakin mengerut.
  • Sekilan bumi dipajeki — Sejengkal tanah dikenai pajak.
  • Jaran doyan mangan sambel — Kuda suka makan sambal.
  • Wong wadon nganggo pakeyan lanang — Orang perempuan berpakaian lelaki.
  • Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman— Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik
  • Akeh janji ora ditetepi — Banyak janji tidak ditepati.
  • Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe— Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
  • Manungsa padha seneng nyalah— Orang-orang saling lempar kesalahan.
  • Ora ngendahake hukum Allah— Tak peduli akan hukum Allah.
  • Barang jahat diangkat-angkat— Yang jahat dijunjung-junjung.
  • Barang suci dibenci— Yang suci (justru) dibenci.
  • Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit— Banyak orang hanya mementingkan uang.
  • Lali kamanungsan— Lupa jati kemanusiaan.
  • Lali kabecikan— Lupa hikmah kebaikan.
  • Lali sanak lali kadang— Lupa sanak lupa saudara.
  • Akeh bapa lali anak— Banyak ayah lupa anak.
  • Akeh anak wani nglawan ibu— Banyak anak berani melawan ibu.
  • Nantang bapa— Menantang ayah.
  • Sedulur padha cidra— Saudara dan saudara saling khianat.
  • Kulawarga padha curiga— Keluarga saling curiga.
  • Kanca dadi mungsuh — Kawan menjadi lawan.
  • Akeh manungsa lali asale — Banyak orang lupa asal-usul.
  • Ukuman Ratu ora adil — Hukuman Raja tidak adil
  • Akeh pangkat sing jahat lan ganjil— Banyak pejabat jahat dan ganjil
  • Akeh kelakuan sing ganjil — Banyak ulah-tabiat ganjil
  • Wong apik-apik padha kapencil — Orang yang baik justru tersisih.
  • Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin — Banyak orang kerja halal justru merasa malu.
  • Luwih utama ngapusi — Lebih mengutamakan menipu.
  • Wegah nyambut gawe — Malas untuk bekerja.
  • Kepingin urip mewah — Inginnya hidup mewah.
  • Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka — Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
  • Wong bener thenger-thenger — Orang (yang) benar termangu-mangu.
  • Wong salah bungah — Orang (yang) salah gembira ria.
  • Wong apik ditampik-tampik— Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).
  • Wong jahat munggah pangkat— Orang (yang) jahat naik pangkat.
  • Wong agung kasinggung— Orang (yang) mulia dilecehkan
  • Wong ala kapuja— Orang (yang) jahat dipuji-puji.
  • Wong wadon ilang kawirangane— perempuan hilang malu.
  • Wong lanang ilang kaprawirane— Laki-laki hilang perwira/kejantanan
  • Akeh wong lanang ora duwe bojo— Banyak laki-laki tak mau beristri.
  • Akeh wong wadon ora setya marang bojone— Banyak perempuan ingkar pada suami.
  • Akeh ibu padha ngedol anake— Banyak ibu menjual anak.
  • Akeh wong wadon ngedol awake— Banyak perempuan menjual diri.
  • Akeh wong ijol bebojo— Banyak orang tukar istri/suami.
  • Wong wadon nunggang jaran— Perempuan menunggang kuda.
  • Wong lanang linggih plangki— Laki-laki naik tandu.
  • Randha seuang loro— Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
  • Prawan seaga lima— Lima perawan lima picis.
  • Dhudha pincang laku sembilan uang— Duda pincang laku sembilan uang.
  • Akeh wong ngedol ngelmu— Banyak orang berdagang ilmu.
  • Akeh wong ngaku-aku— Banyak orang mengaku diri.
  • Njabane putih njerone dhadhu— Di luar putih di dalam jingga.
  • Ngakune suci, nanging sucine palsu— Mengaku suci, tapi palsu belaka.
  • Akeh bujuk akeh lojo— Banyak tipu banyak muslihat.
  • Akeh udan salah mangsa— Banyak hujan salah musim.
  • Akeh prawan tuwa— Banyak perawan tua.
  • Akeh randha nglairake anak— Banyak janda melahirkan bayi.
  • Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne— Banyak anak lahir mencari bapaknya.
  • Agama akeh sing nantang— Agama banyak ditentang.
  • Prikamanungsan saya ilang— Perikemanusiaan semakin hilang.
  • Omah suci dibenci— Rumah suci dijauhi.
  • Omah ala saya dipuja— Rumah maksiat makin dipuja.
  • Wong wadon lacur ing ngendi-endi— Perempuan lacur dimana-mana.
  • Akeh laknat— Banyak kutukan
  • Akeh pengkianat— Banyak pengkhianat.
  • Anak mangan bapak—Anak makan bapak.
  • Sedulur mangan sedulur—Saudara makan saudara.
  • Kanca dadi mungsuh—Kawan menjadi lawan.
  • Guru disatru—Guru dimusuhi.
  • Tangga padha curiga—Tetangga saling curiga.
  • Kana-kene saya angkara murka — Angkara murka semakin menjadi-jadi.
  • Sing weruh kebubuhan—Barangsiapa tahu terkena beban.
  • Sing ora weruh ketutuh—Sedang yang tak tahu disalahkan.
  • Besuk yen ana peperangan—Kelak jika terjadi perang.
  • Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor—Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.
  • Akeh wong becik saya sengsara— Banyak orang baik makin sengsara.
  • Wong jahat saya seneng— Sedang yang jahat makin bahagia.
  • Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul— Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
  • Wong salah dianggep bener—Orang salah dipandang benar.
  • Pengkhianat nikmat—Pengkhianat nikmat.
  • Durjana saya sempurna— Durjana semakin sempurna.
  • Wong jahat munggah pangkat— Orang jahat naik pangkat.
  • Wong lugu kebelenggu— Orang yang lugu dibelenggu.
  • Wong mulya dikunjara— Orang yang mulia dipenjara.
  • Sing curang garang— Yang curang berkuasa.
  • Sing jujur kojur— Yang jujur sengsara.
  • Pedagang akeh sing keplarang— Pedagang banyak yang tenggelam.
  • Wong main akeh sing ndadi—Penjudi banyak merajalela.
  • Akeh barang haram—Banyak barang haram.
  • Akeh anak haram—Banyak anak haram.
  • Wong wadon nglamar wong lanang—Perempuan melamar laki-laki.
  • Wong lanang ngasorake drajate dhewe—Laki-laki memperhina derajat sendiri.
  • Akeh barang-barang mlebu luang—Banyak barang terbuang-buang.
  • Akeh wong kaliren lan wuda—Banyak orang lapar dan telanjang.
  • Wong tuku ngglenik sing dodol—Pembeli membujuk penjual.
  • Sing dodol akal okol—Si penjual bermain siasat.
  • Wong golek pangan kaya gabah diinteri—Mencari rizki ibarat gabah ditampi.
  • Sing kebat kliwat—Yang tangkas lepas.
  • Sing telah sambat—Yang terlanjur menggerutu.
  • Sing gedhe kesasar—Yang besar tersasar.
  • Sing cilik kepleset—Yang kecil terpeleset.
  • Sing anggak ketunggak—Yang congkak terbentur.
  • Sing wedi mati—Yang takut mati.
  • Sing nekat mbrekat—Yang nekat mendapat berkat.
  • Sing jerih ketindhih—Yang hati kecil tertindih
  • Sing ngawur makmur—Yang ngawur makmur
  • Sing ngati-ati ngrintih—Yang berhati-hati merintih.
  • Sing ngedan keduman—Yang main gila menerima bagian.
  • Sing waras nggagas—Yang sehat pikiran berpikir.
  • Wong tani ditaleni—Orang (yang) bertani diikat.
  • Wong dora ura-ura—Orang (yang) bohong berdendang.
  • Ratu ora netepi janji, musna panguwasane—Raja ingkar janji, hilang wibawanya.
  • Bupati dadi rakyat—Pegawai tinggi menjadi rakyat.
  • Wong cilik dadi priyayi—Rakyat kecil jadi priyayi.
  • Sing mendele dadi gedhe—Yang curang jadi besar.
  • Sing jujur kojur—Yang jujur celaka.
  • Akeh omah ing ndhuwur jaran—Banyak rumah di punggung kuda.
  • Wong mangan wong—Orang makan sesamanya.
  • Anak lali bapak—Anak lupa bapa.
  • Wong tuwa lali tuwane—Orang tua lupa ketuaan mereka.
  • Pedagang adol barang saya laris—Jualan pedagang semakin laris.
  • Bandhane saya ludhes—Namun harta mereka makin habis.
  • Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan—Banyak orang mati lapar di samping makanan.
  • Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara—Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
  • Sing edan bisa dandan—Yang gila bisa bersolek.
  • Sing bengkong bisa nggalang gedhong—Si bengkok membangun mahligai.
  • Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil—Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.

Sedulur Papat Antara Kejawen dan Islam


janin

Keberadaan kita hidup di dunia ini tidak sendiri. Semenjak pertama kali kita diturunkan ke alam dunia lewat rahim ibu, Tuhan sudah menitahkan adanya penjaga-penjaga yang senantiasa mendampingi kita hidup di alam dunia. Dan sesuai dengan perintah Tuhan, para penjaga-penjaga itu dengan setia senantiasa berada di sekeliling kita.



Bagi orang Jawa, khususnya orang yang memahami tentang Kejawen, adanya para penjaga tersebut dikenal dengan sebutan “Sedulur Papat”. Siapa saja Sedulur Papat itu? Sedulur papat yang dikenal masyarakat yang memahami Kejawen adalah:
1. Kakang Kawah (Air Ketuban)
2. Adhi Ari-Ari (Ari-ari)
3. Getih (Darah)
4. Puser (Pusar)

Kakang Kawah
Yang disebut dengan Kakang Kawah adalah air ketuban yang menghantarkan kita lahir ke alam dunia ini dari rahim ibu. Seperti kita ketahui, sebelum bayi lahir, air ketuban akan keluar terlebih dahulu guna membuka jalan untuk lahirnya si jabang bayi ke dunia ini. Lantaran air ketuban (kawah) keluar terlebih dulu, maka masyarakat Kejawen menyebutnya Kakak/Kakang (saudara lebih tua) yang hingga kini dikenal dengan istilah Kakang Kawah.

Adhi Ari-Ari
Sedangkan yang disebut dengan adhi ari-ari adalah ari-ari jabang bayi itu sendiri. Urutan kelahiran jabang bayi adalah, air ketuban terlebih dulu, setelah itu jabang bayi yang keluar dan dilanjutkan dengan ari-ari. Karena ari-ari tersebut muncul setelah jabang bayi lahir, maka masyarakat Kejawen biasanya mengenal dengan sebutan Adhi/adik Ari-ari.

Getih
Getih memiliki arti darah. Dalam rahim ibu selain si jabang bayi dilindungi oleh air ketuban, ia juga dilindungi oleh darah. Dan darah tersebut juga mengalir dalam sekujur tubuh si jabang bayi yang akhirnya besar dan berwujud seperti kita ini.

Puser
Istilah Puser adalah sebutan untuk tali pusar yang menghubungkan antara seorang ibu dengan anak yang ada dalam rahimnya. Dengan adanya tali pusar tersebut, apa yang dimakan oleh sang ibu, maka anaknya pun juga ikut menikmati makanan tersebut dan disimpan di Ari-Ari. Disamping itu, pusar juga digunakan oleh si jabang bayi untuk bernapas. Oleh karena itu, hubungan antara ibu dengan anaknya pasti lebih erat lantaran terjadinya kerjasama yang rapi untuk meneruskan keturunan. Semuanya itu atas kehendak dari Gusti Allah Yang Maha Kuasa.

Ketika seorang jabang bayi lahir ke dunia dari rahim ibu, maka semua unsur-unsur itu keluar dari tubuh si ibu. Unsur-unsur itulah yang oleh Gusti Allah ditakdirkan untuk menjaga setiap manusia yang ada di muka bumi ini. Maka bila masyarakat Kejawen hingga kini mengenal adanya doa yang menyebut saudara yang tak tampak mata itu secara lengkap yaitu
“KAKANG KAWAH, ADHI ARI-ARI, GETIH, PUSER, KALIMO PANCER”.

Pancer
Lalu siapakah yang disebut dengan istilah Pancer? Yang disebut dengan istilah Pancer itu adalah si jabang bayi itu sendiri. Artinya, sebagai jabang bayi yang berwujud manusia, maka dialah pancer dari semua ‘saudara-saudara’nya yang tak tampak itu.

Kesamaan Dengan Islam
Antara ajaran Kejawen dengan Islam ada kesamaannya. Dalam Islam disebutkan bahwa setiap manusia dijaga oleh malaikat-malaikat yang ditugaskan oleh Tuhan. Siapa saja malaikat-malaikat itu? Malaikat-malaikat yang ditugaskan oleh Gusti Allah untuk setiap manusia itu antara lain, Jibril, Mikail, Izroil dan Isrofil.

Nah, kesamaan antara ajaran Kejawen dan Islam tersebut yakni Kakang Kawah yang disebutkan sebagai pembuka jalan si jabang bayi, itu di Islam dianggap sama dengan Jibril (Penyampai Wahyu). Malaikat Jibril lah yang membuka jalan bagi keselamatan sang bayi hingga lahir ke dunia.

Sedangkan Adhi Ari-ari yang disebut-sebut di dalam ajaran Kejawen, di dalam Islam dianggap sama dengan Mikail (Pembagi Rezeki). Karena lewat Ari-Ari itulah si jabang bayi dapat hidup dengan sari-sari makanan yang didapatkan dari seorang ibu.

Sementara Getih (darah) , bagi orang Kejawen, pada pemahaman orang Islam dianggap sama dengan keberadaan malaikat Izroil (pencabut nyawa). Buktinya, jika tidak ada darahnya, apakah manusia bisa hidup?

Yang terakhir adalah Puser. Dalam pemahaman masyarakat Kejawen, Puser adalah sambungan tali udara (napas) antara sang ibu dengan anaknya. Nah, pada pemahaman Islam, Puser ini dianggap sama dengan Isrofil (Peniup Sangkakala). Meniup sangkakala menjelang kiamat Qubro (kiamat Besar) adalah dengan napas.

Oleh karena itu, kita wajib mengenali siapa penjaga-penjaga tak nampak yang sudah diperintahkan Gusti Allah untuk senantiasa mendampingi kita. Dengan kita mengenali keberadaan mereka, akhirnya mereka nantinya bisa mawujud (berwujud). Dan yang perlu diingat lagi, jika kita sudah melihat wujud mereka, maka hendaknya kita senantiasa memuji atas kebesaran Gusti Allah yang Maha Agung. Karena atas titah Gusti Allah-lah kita semua bisa hidup berdampingan dengan penjaga-penjaga yang disebut dengan Sedulur Papat, Kalimo Pancer.

Dua Hakekat Hidup

 Manusia hidup di dunia ini sebenarnya memiliki dua hakekat. Dua hakekat hidup tersebut sebenarnya juga merupakan janji seorang manusia kepada sang Khalik sebelum manusia dilahirkan ke dunia ini. Dua hakekat hidup itu sendiri juga merupakan perintah Tuhan yang harus dijalankan selama hidup di dunia. Apakah dua hakekat hidup itu?



 Masyarakat Jawa mengenal dua hakekat hidup tersebut yaitu tansah eling manembah marang Gusti Allah lan apik marang sak padan-padaning urip. Hakekat hidup yang dikenal oleh masyarakat Jawa tersebut juga dikenal dalam ajaran Islam dengan istilah Hablum Minnallah (selalu menyembah Allah) dan Hablum Minna Nass (berbuat baik pada sesama umat).

 Dua hakekat kehidupan tersebut harus senantiasa kita ingat. Pasalnya, jika kita tidak ingat terhadap dua hakekat hidup tersebut, maka kita akan terkena bencana karena ulah kita sendiri. Misalkan, kita tidak berbuat baik terhadap sesama manusia, maka secara langsung maupun tidak langsung, kita tidak akan disenangi manusia lainnya yang ada di sekitar kita. Itu masih masalah hubungan dengan manusia. Nah, kalau hubungan dengan TUhan malah harus lebih baik lagi. Kalau dimusuhi manusia, kita masih bisa berlagak sombong dengan mengatakan tak butuh bantuan dari si fulan yang memusuhi kita, tetapi kalau dimusuhi oleh Gusti Allah, kepada siapa kita berlindung dan meminta pengayoman hidup?

 Dua hakekat kehidupan itulah yang harus kita pegang dalam hidup ini. Kalau Anda tidak percaya, silakan Anda mengingkari dua hakekat kehidupan itu dan lihatlah apa yang akan terjadi pada Anda. Oleh karena itu, hayatilah dua hakekat hidup itu sebelum melangkah pada penyembahan Gusti Allah yang maha sempurna. Itu sebagai bukti bahwa kita telah menjalankan apa yang diperintahkan Gusti Allah kang Maha Adil untuk merengkuh CintaNYA.

Arti Nama Tokoh Punakawan


Pernahkah Anda nonton wayang kulit? Tentu banyak orang yang sudah pernah nonton wayang kulit ataupun wayang orang. Dalam pewayangan tersebut ada beraneka macam tokoh. Konon Sunan Kalijaga telah menciptakan wayang kulit tersebut untuk sarana dakwah, agar manusia senantiasa Eling marang GUSTI ALLAH.

Diantara tokoh-tokoh wayang kulit ada tokoh yang disebut Punakawan. Marilah kita simak, apakah arti dari punakawan itu dan arti dari nama-nama tokoh dalam punawakan itu.

Punakawan itu berasal dari kata-kata Puna dan Kawan. Puna berarti susah; sedangkan kawan berarti kanca, teman atau saudara. Jadi arti Punakawan itu juga bisa diterjemahkan teman/saudara di kala susah.

Ada penafsiran lain dari kata-kata Punakawan. Puna bisa juga disebut Pana yang berarti terang, sedangkan kawan berarti teman atau saudara. Jadi penafsiran lain dari arti kata Punakawan adalah teman atau saudara yang mengajak ke jalan yang terang.

Penafsiran lainnya, Puna atau Pana itu berarti fana. Jadi Punakawan juga bisa ditafsirkan teman/saudara yang mengajak ke jalan kefanaan.

Tokoh-tokoh Punakawan itupun namanya memiliki arti. Semar berasal dari kata Samara (bergegas), Nala Gareng berasal dari kata nala khairan (memperoleh kebaikan). Sedangkan Petruk berasal dari kata fat ruk (tinggalkanlah), sementara Bagong berasal dari kata al ba gho ya (perkara buruk).

Jadi jika digabungkan maka arti dari tokoh Semar, Nala Gareng, Petruk, Bagong itu memiliki arti 'bergegaslah memperoleh kebaikan, tinggalkanlah perkara buruk'.

3 Titipan ALLAH

Dalam hidup ini, setiap manusia selalu mendapatkan pengayoman dari GUSTI ALLAH. Pengayoman tersebut tidak pernah putus walau sedetik pun. Berbagai kenikmatan di dunia ini senantiasa kita terima secara gratis. Contohnya, napas kita. GUSTI ALLAH senantiasa memberikan udara pada kita untuk bernapas dan tidak membayar sepeser pun alias gratis. Namun kadangkala manusia selalu menganggap kenikmatan itu sebagai hal-hal yang berbau materi.



Umumnya manusia merasa baru mendapatkan kenikmatan setelah menerima duit dari orang lain. Mereka mengatakan itu merupakan rejeki. Rejeki dan kenikmatan itu semata-mata bukanlah materi. Apa yang kita terima dari GUSTI ALLAH berupa kesegaran, kesehatan dan lainnya, itupun merupakan rejeki dan kenikmatan dari ALLAH. Itu merupakan tanda bahwa GUSTI ALLAH senantiasa mengayomi setiap diri umatnya. Tidak peduli apakah umatnya itu memiliki cacat fisik maupun rohani, semuanya selalu mendapatkan pengayoman dari GUSTI.

GUSTI ALLAH itu juga Maha Adil. DIA menjaga setiap sendi-sendi kehidupan umatnya. Namun berbeda dengan manusia, rata-rata makhluk yang disebut manusia ini dalam praktek kehidupan sehari-hari ternyata tidak adil. Ada tiga hal yang patut dijaga oleh manusia agar seorang manusia itu dikatakan adil dan menjadi "Manungso sejati". Apa saja itu?

Tiga hal tersebut adalah:
1. Raga
2. Pikiran
3. Jiwa

Ketiga hal tersebut ada dalam setiap tubuh manusia. Raga dalam bahasa Jawa disebut "Wadag". Pikiran dalam bahasa Jawa disebut "nalar". Sedangkan Jiwa disebut orang Jawa dengan "suksma". Ketiga hal tersebut antara satu dengan lainnya memiliki makanan sendiri-sendiri.

Makanan untuk ketiga hal tersebut:
1. Raga (makanannya adalah nasi, roti dsb)
2. Pikiran (makanannya adalah membaca koran, melihat TV, mendengarkan radio dan tukar pikiran dengan orang lain agar tumbuh pemahaman)
3. Jiwa (makanan dari jiwa adalah "panembah", "Memuji GUSTI ALLAH", Sembahyang, Sholat dan lainnya, agar muncul rasa tentram dalam hidup ini).

Nah, rata-rata manusia dikatakan tidak bisa adil karena untuk menjaga makanan dari ketiga hal tersebut saja merasa kesulitan. Padahal, GUSTI ALLAH sudah menitipkan tiga hal tersebut pada setiap diri dan titipan itu harus dirawat dengan baik oleh manusia. Kenyataannya malah berkata lain. Manusia umumnya menelantarkan satu dari ketiga hal tersebut.

Setiap titipan GUSTI ALLAH pada manusia jika kita sebagai manusia menelantarkannya, maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam hidup ini. Contohnya, jika kita lebih mementingkan raga saja dengan makan semua makanan yang ada tanpa diimbangi dengan kebutuhan Jiwa dan pikiran, maka yang muncul adalah penyakit akibat makanan itu.

Demikian juga ketika kita lebih mementingkan pikiran dimana kita selalu mencari pemahaman dengan membaca koran dan ilmu pengetahuan lainnya tanpa mempedulikan raga dan jiwa, maka kita juga akan sakit. Umumnya sakit maag, lever dan lainnya.

Oleh karena itu, ketiga hal tersebut harus dijaga keseimbangannya karena ketiganya merupakan titipan yang sangat berharga dari GUSTI ALLAH. Kalau ketiga hal tersebut sudah bisa dijaga dengan seadil-adilnya, maka kita bisa disebut manusia yang senantiasa menjaga amanah dari GUSTI ALLAH dan digelari sebagai "Manungso Sejati".

Sampurnaning Urip, Sampurnaning Pati

Sajatine ora ana apa-apa, awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhihin iku Ingsun, ora ana Pangeran anging Ingsun sajatining kang urip luwih suci, anartani warna, aran, lan pakartining-Sun (dzat, sipat, asma, afngal).



Bahasa Jawa di atas memiliki arti sebagai berikut: Sesungguhnya tidak ada apa-apa, sejak masih awang-uwung (suwung, alam hampa) belum ada suatu apapun, yang ada pertama kali adalah Ingsun, tidak ada Tuhan kecuali Aku (Ingsun) sejatinya hidup yang lebih suci, mewakili pancaran dzat, sifat, asma dan afngal-Ku (Ingsun).

Kalau menilik dari kata-kata tersebut, maka kita akan bisa mawas diri tentang keberadaan kita sebagai manusia. Kita ini siapa, darimana dan nantinya bakal ke mana. Ketika terlahir ke alam dunia, manusia masih berbentuk bayi dan tidak membawa satu lembar kain pun. Saat menjadi bayi itu, kita yang semula tidak perlu disuapi ketika masih berada di dalam perut ibu, sudah mulai diperkenalkan dengan kejamnya dunia. Dimana kita harus menangis meronta-ronta untuk bisa mendapatkan makanan dengan cara disuapi ibu.

Namun ketika kita menginjak pada masa kanak-kanak, tidak ada hal-hal terindah yang menghiasi kehidupan ini selain bermain dan bermain bersama teman-teman sebaya. Bahkan ketika melihat sungai, kali ataupun empang yang ada di sekitar rumah kita, maka kita yang masih kanak-kanak ketika itu melihat keindahan yang luar biasa. Kita melihat anugerah GUSTI ALLAH yang Maha Besar lewat alam semesta yang diciptakan. Maka, jangan heran ketika kita melihat gunung, pantai dan lainnya, pandangan kanak-kanak kita akan mengagumi keindahan alam Sang Pencipta itu.

Waktu pun beranjak dan terus berlalu. Akhirnya masa kanak-kanak kita berganti dengan masa remaja. Di masa remaja inilah kita sudah mulai menerima unsur-unsur positif dan negatif dari lingkungan. Tragisnya, di masa ini kita masih belum bisa memilah-milah mana yang benar dan mana yang salah. Semuanya ditelan mentah-mentah. Di masa inilah pembentukkan jiwa terjadi. Kalau yang dominan unsur negatif, maka seseorang di masa depannya akan diwarnai dengan perilaku yang negatif. Tetapi kalau unsur positif yang banyak masuk, maka kehidupan orang tersebut di masa depan akan menjadi lebih terang dan terarah.

Ketika kita mulai menginjak masa dewasa dan sudah memutuskan untuk menikah, maka keindahan alam semesta ciptaan GUSTI ALLAH yang ketika masa kanak-kanak kita saksikan, akhirnya musnah. Yang ada adalah berganti dengan pandangan duit, duit dan duit. Kita disibukkan untuk mencari harta dunia. Semua yang kita lakukan semata-mata adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Harta dunia itulah yang mulai menghalang-halangi pandangan kita terhadap keberadaan GUSTI ALLAH.

Buktinya, walaupun kita shalat, meditasi, tafakur ataupun semedi, kadangkala yang tampak di depan kita hanyalah persoalan-persoalan yang berkutat pada duit. Pertanyaan besar yang muncul, DULU KITA INI SIAPA, PUNYA APA DAN SEKARANG KITA PUNYA APA?

Jawabannya mudah, dulu kita ini bayi, kanak-kanak, remaja tidak punya apa-apa. Tetapi ketika dewasa dan berumahtangga, kita "DITITIPI" oleh GUSTI ALLAH dengan anak, istri dan harta benda. Tragisnya, kita malah bangga dengan harta benda yang kita peroleh. "Kekayaan ini adalah hasil kerja kerasku selama ini," ujar kita meski dalam hati.

Tidak, sekali-kali tidak. Harta benda, anak, istri dan apapun yang kita miliki di dunia ini bukanlah milik kita. Itu sekedar "TITIPAN" Sang Kuasa. Kalau Anda merasa memiliki semuanya, mampukah Anda menghalang-halangi bahaya kebakaran yang akan melumat habis harta benda Anda? Mampukah kita menghalang-halangi nyawa anak kita yang akan dipanggil oleh GUSTI ALLAH? Bahkan kita sendiri tidak mampu menolak ketika nyawa kita hendak dicabut dari jasmani ini oleh Tuhan.

SEMUA MILIK GUSTI ALLAH

Pada bait di atas disebutkan kata-kata dzat, sipat, asma, afngal.

ZAT: Semua di dunia ini yang memiliki zat, itu milik GUSTI ALLAH. Coba Anda cari adakah di dunia ini yang sifatnya bukan zat?

SIFAT: Semua makhluk ataupun benda yang memiliki sifat-sifat adalah milik GUSTI ALLAH.

ASMA: Asma adalah berarti nama. Semua benda yang ada di dunia ini yang memiliki nama, adalah milik GUSTI ALLAH. Coba Anda cari makhluk ataupun benda di dunia ini yang tidak memiliki nama. Selama memiliki nama, itu kepunyaan GUSTI ALLAH.

AFNGAL: Rasa. Semua makhluk ataupun benda di dunia ini yang memiliki rasa, maka adalah milik GUSTI ALLAH.

Kembali ke pertanyaan dasar: Lalu kita ini punya apa? Jelas, tidak punya apa-apa. Ketika mati pun kita tidak akan membawa sepeser pun uang. Masihkah kita merasa sebagai makhluk yang adigang-adigung-adiguno? Jelas tidak. Kita harus pandai-pandai mepes hawa nafsu agar kita bisa kembali sebagai satria sejati. Satria sejati adalah manusia yang bisa menemukan sampurnaning urip lan sampurnaning pati (sempurnanya hidup, dan sempurnanya mati).

MELIHAT AURA DIRI

Ini ada sedikit "cara" agar kita bisa melihat aura diri atau orang lain dan juga berfungsi untuk menajamkan mata bathin serta kekuatan pikiran. ( Lintas Agama )
Caranya :


Siapkan sebatang lilin, lalu nyalakan diruangan gelap ( dalam kamar asal jgn dikamar mandi bro :p )
Posisi lilin sejajar dgn mata. ( Duduk bersila ).
Awal "latihan"...tarik nafas sambil baca doa memohon kpd Yang Kuasa 3X...kemudian tahan nafas lalu keluarkan perlahan. ( Metode pernafasan piramida ).
Konsentrasi penuh dan slalu memohon pada Yang KUasa. Tataplah nyala lilin tsb yang berwarna biru (ditengah / ujung sumbu lilin ). Tatap terus dan jangan berkedip semaksimalnya. Untuk Tahap Awal lakukanlah selama 30 menit. Diusahakan mata jangan sampai berkedip. Perlahan dan pasti anda akan melihat perubahan warna dililin tsb. Lakukan terus menerus. Dan diakhiri dgn doa memohon kepda Yang Kuasa sambil tangan dibasuh kewajah sebanyak 3 kali.
Ingat konsentrasi dan keyakinan penuh. Bila anda sudah berhasil melihat minimal 5 warna dari 7 warna yang ada, mudah2an anda sudah bisa melihat aura sendiri atau org laen.

Islam Vs Budaya Jawa

Dalam antropologi budaya, kita dapat mengenal beragam suku dan budaya, salah satunya adalah masyarakat atau suku Jawa. Masyarakat Jawa adalah orang-orang yang dalam hidup kesehariannya menggunakan bahasa Jawa dengan ragam dialeknya secara turun temurun. Suku bangsa Jawa  adalah mereka yang bertempat tinggal di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta mereka yang berasal dari kedua  daerah tersebut. Secara geografis  suku bangsa Jawa mendiami tanah Jawa yang meliputi Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang dan Kediri, sedangkan diluar itu  dinamakan pesisir dan Ujung Timur. Surakarta dan Yogyakarta yang merupakan dua bekas kerajaan Mataram pada sekitar abad ke  XVI adalah pusat dari kebudayaan  Jawa. Keduanya adalah tempat kerajaan terakhir dari pemerintahan raja-raja Jawa (Kodiran, 1976).
Nenek moyang  suku bangsa Jawa tidak berbeda dari suku-suku bangsa Indonesia lainnya yang menempati Semenanjung Malaka, Kalimantan, Sumatra dan Jawa yang disebut daratan Sunda. Semula wilayah ini masih menjadi  satu dengan benua Asia sebelum es mencair dan memisahkan keduanya. Dari sisa peninggalan masing-masing budayanya dimungkinkan ada hubungan darah  di antara suku-suku tersebut, terutama dengan bangsa Asia Tenggara terutama Indo  China. Sementara itu, dibagian timur adalah dataran Sahul, yang memunculkan Irian dan Australia. Antara Sunda dan Sahul tersebar pulau-pulau Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, Banda dan Filipina.
Islam meskipun terlahir dari negeri Arab yang tandus, namun karena dibawa oleh Nabi pembawa risalah di akhir zaman, untuk menebarkan rahmat ke seluruh penjuru dunia. Meskipun, secara fisik sudah tidak ada, namun kebenaran risalah yang diembannya senantiasa terpancar sepanjang zaman, tidak terbatas oleh sekat-sekat daratan maupun lautan. Pada perkembanganya, dari waktu ke waktu semakin berkibar, hampir ke seluruh penjuru dunia, tidak ketinggalan pulau Jawa pun mendapat pancaran risalah tersebut.
Syi’ar Islam di luar pulau Jawa tidak begitu mengalami hambatan, hampir di semua daerah hanya dihadapkan pada budaya lokal dan Islam mendapat dukungan dari para penguasa setempat. Berbeda dengan di Jawa yang sarat dengan budaya asing. Islam masuk ke Jawa harus menghadapi masyarakat Jawa yang penuh dengan budaya mistis, bangunan kepercayaan Animisme-Dinamisme dan  agama Hindu-Budha yang sudah mengakar. Dakwah Islam untuk beberapa abad tidak mampu menembus dinding istana yang masih dipagari dengan kepercayaan Hindu-Budha Kejawen. Berbeda dengan syiar Islam di luar Jawa (seperti di Aceh), agama Islam dapat segera diterima oleh pihak kerajaan (Raja Samodra Pasai) sejak abad ke XIII (Boechari, 1971:9).
Masyarakat Jawa sebelum datangnya agama-agama asing dari luar, telah memiliki kepercayaan sendiri. Kepercayaan adanya kekuatan magis dan pemujaan terhadap ruh-ruh leluhur (animis-dinamis), mengembangkan kebudayaan berburu dan meramu, menangkap ikan, membuat perahu lesung dan kapak berbentuk cakram sejak zaman pra-sejarah (Koentjaraningrat, 1984:17). Mistik merupakan ajaran yang telah lama dikenal dan diyakini oleh orang Jawa. Kedatangan bangsa India (Hindu-Budha) juga mengajarkan mistik, yang kemudian diserap dan diolah oleh orang Jawa.
Datangnya bangsa India yang membawa kepercayaan dan peradaban baru membuat kebudayaan Jawa semakin berkembang bukannya tersisih. Ajaran Hindu-Budha dari India tersebut makin memperhalus peradaban dan tradisi Jawa, tradisi Jawa yang serba magis-mistis. Karena pada dasarnya ajaran Hindu-Budha sendiri penuh dengan ajaran mistis dan mitologis. Kesesuaian ajaran inilah yang membuat ajaran Hindu-Budha mudah dan cepat dicerna oleh masyarakat Jawa. Agama baru ini (Hindu dan Budha) berkembang dengan pesat, mengakar dalam segala lapisan kehidupan, sampai-sampai diyakini sebagai budaya Jawa asli.
Masuknya pengaruh kebudayaan dan kepercayaan India (Hindu-Budha) bersifat ekspansif, sedangkan kebudayaan Jawa yang menerima menyerap unsur-unsur Hinduisme-Budhisme. Prosesnya bukan sekedar akulturasi saja, tetapi yang terjadi justru kebangkitan budaya Jawa dengan memanfaatkan unsur-unsur agama India tersebut (Simuh, 1996:115). Kerajaan-kerajaan Jawa mulai diwarnai oleh kebudayaan India, maka menumbuhkan nuansa baru dalam kehidupan masyarakat jawa, khususnya kalangan kraton, yaitu nuansa Hindu-Kejawen. Berkat pengaruh kebudayaan India inilah kalangan istana mendapat perlakuan istimewa dari semua pihak. Raja sangat dikeramatkan dan menjadi pusat pengabdian, kerajaan menjadi semakin berwibawa dan kokoh. Pihak istana mewakili budaya lapisan atas dan rakyat awam sebagai figur budaya lapisan bawah, yang diwarnai nuansa mistis.
Masuknya agama Islam ke tanah Jawa, yang dibawa oleh kaum Ulama Sufi (mistikus Islam), untuk beberapa abad tidak mampu menembus lingkungan kerajaan atau kraton yang masih dipagari dengan kepercayaan Hindu-Kejawen. Sehingga dakwah Islam yang dilakukan oleh para Sufi dari daerah pesisiran pantai, yang secara geografis jauh dari lingkungan kerajaan. Masyarakat pesisir yang cenderung memiliki watak egaliter, tidak mengenal lapisan-lapisan masyarakat, cenderung menerima ajaran Islam yang mengajarakan persamaan hak dan derajat manusia. Berawal dari sinilah, keberhasilan dakwah Islam yang mengajarkan persamaan hak dan derajat manusia disambut dengan gembira oleh rakyat awam, bahkan dianggap sebagai penerang dari kegelapan. Tidak ada perbedaan antara rakyat dan pejabat, semua manusia sama derajatnya di sisi Allah SWT.
Dalam perkembangan dakwahnya, Islam akhirnya berhasil menjadi bagian hidup masyarakt pesisir, yang kemudian melahirkan komunitas baru yang berpusat di pesantren di sepanjang pesisir pantai. Puncak keberhasilan dakwah Islam ditandai dengan berdirinya kerajaan Demak dan rajanya yang pertama Raden Patah, bergelar Sultah Syah Alam Akbar memegang pemerintahan selama 43 tahun (1475 - 1518) (Warsito, 1973:15).
Kerajaan Demak sebagai pewaris kerajaan Majapahit, peralihan dari kerajaan Jawa-Hindu ke kerajaan Jawa-Islam berkat perjuangan para ulama Sufi yang bergelar Wali tanah Jawa (Walisongo). Kerajaan Demak pun mewarisi tradisi kejawen pada umumnya, unsur agama dan pejabat keagamaan merupakan bagian tak terpisahkan dari kelengkapan kerajaan seperti kerajaan-kerajaan Jawa pada masa-masa sebelumnya. Masa kerajaan Demak dakwah dilakukan secara aktif oleh Walisongo, dalam menghadapi masyarakat yang komplek para wali mengambil kebijakan-kebijakan khusus. Islamisasi dimulai dari kalangan istana dan tradisinya, sampai pada seni, budaya dan sastra. Masa inila awal pertemuan ajaran Islam dengan tradisi dan budaya Jawa.
Runtuhnya kerajaan Jawa-Hindu Majapahit (1518) dan berdirinya kerajaan Jawa-Islam Demak menjadikan agama Islam subur di kalangan istana, menjadi bagian hidup para priyayi dan cendekiawan Jawa. Hubungan antara para cendekiawan Jawa dengan Ulama juga terjalin dengan baik, mengakibatkan terjadinya interaksi antara Islam dengan sastra dan budaya istana. Para pujangga bertindak aktif, mengolah antara unsur-unsur kejawen dengan ajaran Islam. Zaman ini disebut sebagai zaman peralihan, yakni peralihan dari zaman Kebudhan (tradisi Hindu-Budha) ke zaman Kawalen (Islam) (Simuh, 1996:124).
Zaman kerajaan Demak yang diteruskan oleh kerajaan-kerajaan Jawa-Islam berikutnya, Pajang, Mataram, Surakarta dan Kartusura masih mempertahankan tatanan tradisi kejawen yang sudah disesuaikan dengan Islam. Kehadiran agama Islam membangkitkan semangat hidup kerohanian dan sastra Jawa, lahirnya karya sastra baru yang merupakan perpaduan Jawa dan Islam berbentuk : Serat, Suluk, Primbon, Wirid. Kitab-kitab Kejawen tersebut mengajarkan tentang mistik, etika, hikayat yang merupakan pengolahan Jawa atas Islam. Kecenderungan karya sastra para pujangga Jawa menonjolkan aspek mistik, karena sudah menjadi tugas dan kewajiban mereka untuk memberi dukungan dan membuat keramat sebuah institusi kerajaan. Hal ini dimaksudkan agar kerajaan memiliki wibawa dan otoritas yang ditaati oleh rakyatnya, sehingga rakyat dapat hidup aman dan makmur di dalam pemerintahannya. Karya sastra yang dibuat oleh para pujangga (Cendekiawan Jawa) tidak lain berfungsi sebagai pendukung kekuasaan dan memperkokoh kuasa para raja, dengan tradisi Raja titising Dewa (raja penjelmaan Dewa di dunia).
Kepiawaian para cendekiawan Jawa dalam mempertahankan tradisi Jawa dan menyesuaikannya dengan Islam membangkitkan semangat keberagaman masyarakat Jawa. Unsur-unsur Islam, terutama mistik (tasawuf) mengalami pengolahan Jawa. Ajaran Islam dipadukan dengan tradisi dan budaya Jawa, dan juga terjadi proses Islamisasi budaya Jawa. Adanya pergumulan antara mistik Islam (tasawuf) dengan mistik Jawa yang notabenenya perpaduan Jawa dengan Hindu-Budha, sangat kental dalam tradisi masyarakat Jawa. Pengolahan Jawa atas ajaran mistik Islam melahirkan adanya bentuk kepercayaan baru bagi masyarakat Jawa, yang dikenal dengan Kebatinan. Kebatinan adalah kebudayaan spiritual dari keraton Jawa, yang berasal dari zaman yang sudah sangat tua dan telah mengalami perkembangan yang sangat unik

Memahami Filosofi Leluhur Jawa



Leluhur masyarakat Jawa memiliki beraneka filosofi yang jika dicermati memiliki makna yang begitu dalam. Tetapi, anehnya filosofi yang diberikan oleh para leluhur itu saat ini dinilai sebagai hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Padahal, filosofi leluhur tersebut berlaku terus sepanjang hidup. Dibawah ini ada beberapa contoh filosofi dari para leluhur/nenek moyang masyarakat Jawa.



"Dadio banyu, ojo dadi watu" (Jadilah air, jangan jadi batu).

Kata-kata singkat yang penuh makna. Kelihatannya jika ditelaah memang manungso kang nduweni manunggaling roso itu harus tahu bagaimana caranya untuk dadi banyu.

Mengapa kita manusia ini harus bisa menjadi banyu (air)? Karena air itu bersifat menyejukkan. Ia menjadi kebutuhan orang banyak. Makhluk hidup yang diciptakan GUSTI ALLAH pasti membutuhkan air. Nah, air ini memiliki zat yang tidak keras. Artinya, dengan bentuknya yang cair, maka ia terasa lembut jika sampai di kulit kita.

Berbeda dengan watu (batu). Batu memiliki zat yang keras. Batu pun juga dibutuhkan manusia untuk membangun rumah maupun apapun. Pertanyaannya, lebih utama manakah menjadi air atau menjadi batu? Kuat manakah air atau batu?

Orang yang berpikir awam akan menyatakan bahwa batu lebih kuat. Tetapi bagi orang yang memahami keberadaan kedua zat tersebut, maka ia akan menyatakan lebih kuat air. Mengapa lebih kuat air daripada batu? Jawabannya sederhana saja, Anda tidak bisa menusuk air dengan belati. Tetapi anda bisa memecah batu dengan palu.

Artinya, meski terlihat lemah, namun air memiliki kekuatan yang dahsyat. Tetes demi tetes air, akan mampu menghancurkan batu. Dari filosofi tersebut, kita bisa belajar bahwa hidup di dunia ini kita seharusnya lebih mengedepankan sifat lemah lembut bak air. Dunia ini penuh dengan permasalahan. Selesaikanlah segala permasalahan itu dengan meniru kelembutan dari air. Janganlah meniru kekerasan dari batu. Kalau Anda meniru kerasnya batu dalam menyelesaikan setiap permasalahan di dunia ini, maka masalah tersebut tentu akan menimbulkan permasalahan baru.

"Sopo Sing Temen Bakal Tinemu"

Filosofi lainnya adalah kata-kata "Sopo sing temen, bakal tinemu" (Siapa yang sungguh-sungguh mencari, bakal menemukan yang dicari). Tampaknya filosofi tersebut sangat jelas. Kalau Anda berniat untuk mencari ilmu nyata ataupun ilmu sejati, maka carilah dengan sungguh-sungguh, maka Anda akan menemukannya.

Namun jika Anda berusaha hanya setengah-setengah, maka jangan kecewa jika nanti Anda tidak akan mendapatkan yang anda cari. Filosofi di atas tentu saja masih berlaku hingga saat ini.

"Sopo sing kelangan bakal diparingi, sopo sing nyolong bakal kelangan"
(Siapa yang kehilangan bakal diberi, siapa yang mencuri bakal kehilangan).


Filosofi itupun juga memiliki kesan yang sangat dalam pada kehidupan. Artinya, nenek moyang kita dulu sudah menekankan agar kita tidak nyolong (mencuri) karena siapapun yang mencuri ia bakal kehilangan sesuatu (bukannya malah untung).

Contohnya, ada orang yang dicopet. Ia akan kehilangan uang yang dimilikinya di dalam dompetnya. Tetapi GUSTI ALLAH akan menggantinya dengan memberikan gantinya pada orang yang kehilangan tersebut. Tetapi bagi orang yang mencopet dompet tersebut, sebenarnya ia untung karena mendapat dompet itu. Namun,ia bakal dibuat kehilangan oleh GUSTI ALLAH, entah dalam bentuk apapun.

Dari filosofi tersebut, Nenek moyang kita sudah memberikan nasehat pada kita generasi penerus tentang keadilan GUSTI ALLAH itu. GUSTI ALLAH itu adalah hakim yang adil.

Melihat, Mendengar, Merasa, Meraba dengan Kalbu


Dalam setiap tubuh manusia terdapat satu piranti khusus yang diciptakan oleh GUSTI ALLAH. Namun kebanyakan manusia tidak menyadari pentingnya piranti itu. Piranti tersebut merupakan bagian tubuh manusia yang berukuran kecil.Namun jika satu bagian tubuh ini rusak, maka rusaklah manusia itu.

Bagian tersebut adalah hati nurani atau yang dikenal dengan kalbu. Begitu pentingnya arti dari sebuah kalbu, sampai-sampai Rasulullah Muhammad SAW mengungkapkan lewat hadistnya,"Dalam tubuh setiap orang terdapat bagian yang terkecil yang disebut kalbu. Jika kalbunya rusak, maka rusaklah akhlak manusia itu. Namun, jika kalbunya baik, maka baiklah akhlak manusia itu".

Begitu pentingnya sebuah hati nurani atau kalbu itu hingga piranti yang merupakan bagian dari tubuh kita itu menjadi 'tali' pengikat antara kita dan GUSTI ALLAH.

Pernah ada seorang teman yang menyatakan,"saya tidak suka bekerja dengan hati nurani. Saya lebih suka bekerja dengan logika". Agak kaget juga saya mendengar perkataannya. Memang manusia dibekali dengan logika. Tetapi tidak semua yang ada di muka bumi ini bisa dilogika. Karena GUSTI ALLAH menciptakan alam ini ada dua yakni alam nyata dan alam ghaib. Bagaimana bisa masuk logika jika menyangkut alam ghaib? Lalu dengan apa manusia bisa menyaksikan keberadaan alam ghaib?

Jawabannya hanya satu yaitu dengan kalbu. Jika diasah secara terus menerus maka kalbu manusia itu akan lebih tajam daripada pisau. Namun sebaliknya, jika kalbu tersebut tidak pernah diasah, maka akan tumpul. Kebanyakan pelaku spiritual sangat memperhatikan betul terhadap kalbu. Mereka melihat dengan kalbu, merasa dengan kalbu, mendengar dengan kalbu bahkan kadang-kadang mereka meraba dengan kalbu.

Apakah otak manusia sebagai tempat untuk berpikir tentang logika tidak penting? Wah, sangat penting. GUSTI ALLAH tidak akan menciptakan apapun di dunia ini yang sia-sia. Semuanya pasti ada gunanya. Untuk itu, antara otak manusia dan kalbu memiliki hubungan yang sangat penting.

Agar hati bisa setajam belati, lakukanlah latihan dengan kalbu Anda. Aktifkanlah kalbu Anda agar bisa lebih mendekat pada GUSTI ALLAH. Pada dasarnya, semua yang ada di dunia ini ada dalam kalbu. Kegembiraan, kesenangan, kebahagiaan, rasa syukur dan lain-lainnya ada pada kalbu. Oleh karena itu, gunakanlah kalbu Anda untuk selalu bisa berkomunikasi dengan GUSTI ALLAH.
 
Copyright © 2011. mandhez . All Rights Reserved.
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Design by Premium Blogger Templates. Inspired from Blogger Tricksfree download all